Omong Kosong Demokrasi: Muslimah Ukraina Diadili Gara-gara Foto Jilbabnya

Lagi, kebusukan demokrasi, kebebasan dan hak-asasi manusia atas kaum Muslimah. Ide tersebut kembali menikam ide mereka sendiri. Baru-baru ini dikabarkan, Susanna Ismailova, 25 tahun, dari kota Bakhchisarai dihukum oleh Departemen Kementrian Dalam Negeri Ukraina di pengadilan daerah Kyiv, karena haknya untuk difoto dengan mengenakan jilbab atau pakaian Muslimah.

Dia dicabut haknya di kantor pelayanan paspor di Bakhchisarai saat ia akan menempelkan foto paspornya ketika dia sudah mencapai usia 25. Patut diperhatikan, kantor pelayanan paspor di bekas tempat tinggalnya, Dzankoi memberikan sanksi pada Susanna karena difoto dengan mengenakan jilbab ketika ia mendapatkan paspor pertama, kantor berita Krimea, QHA, melaporkan.

“Saya sudah memakai jilbab lebih dari sepuluh tahun sebagai ketetapan Al-Quran untuk kita. Pakaian wanita Muslimah harus mencakup semuanya. Hanya wajah dan telapak tangan yang boleh terlihat. Ini adalah cara hidup kita dan kita harus memiliki hak di negara demokrasi,” kata Imailova. Baca lebih lanjut

Setelah Hancur Kehidupan Umat Islam di Irak Barulah AS Laknatullah Pergi

Perang di Irak akan berakhir dan semua tentara Amerika Serikat segera pulang, kata Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, sambil terus berkoar-koar untuk mendukung rakyat Irak dalam perwujudan “State of the Union”. Penjajah Amerika tentu saja tidak akan meninggalkan daerah jajahannya, kecuali setelah kehidupan kaum Muslim berhasil dihancurkan atau setelah penjajah memastikan negeri jajahannya tunduk pada ide-ide busuk dari Barat.

“Ketika melanjutkan melawan al-Qaida, kita akan meninggalkan Irak secara bertanggung jawab kepada rakyatnya,” kata Obama kepada anggota Kongres. “Tetapi, perlu ditekankan bahwa perang ini akan berakhir dan semua anggota tentara kita akan pulang,” tambahnya sambil disambut riuh tepuk tangan para anggota Kongres.

“Kita akan dukung pemerintah Irak ketika ia mengadakan pemilu dan terus membantu rakyatnya untuk membantu kemakmuran dan keamanan regional,” tambah Obama. Presiden Amerika itu mengubah fokus pasukan Amerika dari Irak ke Afghanistan untuk menghadapi pergerakan Taliban dan menggempul Al-Qaida yang mereka duga bersembunyi di sepanjang perbatasan dengan Pakistan. Baca lebih lanjut